Polisi NSW (New South Wales) menangkap seorang wanita berusia 23 tahun atas dugaan pencurian lebih dari US$ 450.000 cryptocurrency ripple.

Dilansir dari news.com.au, pasukan cybercrime komando kejahatan negara Australia, Strike Force Rostrevor, dibentuk pada bulan Januari untuk menyelidiki pencurian 100.000 unit ripple dari akun elektronik seorang pria berusia 56 tahun.

Pada saat itu, cryptocurrency ripple diperdagangkan sekitar $US 3,18. Ripple telah kehilangan hampir 90 persen dari nilainya sejak puncaknya pada bulan Januari sebesar US$US 3,39. Hari ini nilai ripple US$ 0,65, sehingga 100.000 unit ripple yang dicuri itu bernilai sekitar US$ 65.000.

Korban mengatakan kepada penyelidik bahwa ia yakin akun emailnya telah diretas bulan sebelumnya dan kemudian dikunci selama dua hari pada pertengahan bulan Januari. Ketika ia mendapatkan kembali kendali atas akun dan memeriksa aktivitas akunnya, ia melihat akun cryptocurrency-nya juga telah diambil alih dengan meninggalkan saldo hampir nol.

Polisi NSW mengatakan, “Setelah penyelidikan ekstensif, detektif Strike Force Rostrevor mengeksekusi surat perintah penggeledahan di sebuah rumah di Epping pada pukul 8 pagi pada hari Kamis (25/10/2018).”

Wanita itu ditangkap dan dibawa ke kantor polisi Ryde, tempat ia dituduh dengan sengaja melakukan kejahatan. Polisi menuduh wanita itu dengan adanya kemungkinan orang lain mengambil alih akun email seorang pria dan menguncinya dengan mengubah kata sandi, kemudian mengaktifkan nomor ponsel sebagai autentikasi kedua pada akun tersebut.

Wanita itu kemudian diduga mengakses akun cryptocurrency dan mentransfer lebih dari 100.000 ripple ke bursa yang berbasis di China, yang kemudian diubah menjadi bitcoin. Atas tuduhan tersebut, ia pun diberikan jaminan bersyarat dan akan muncul di pengadilan lokal Burwood pada Senin 19 November 2018.

Terkait kejadian ini, Komandan Pasukan Cybercrime, Detective Superintendent Arthur Katsogiannis mendesak masyarakat untuk mengaktifkan autentikasi multi-factor di akunnya untuk membantu melindungi dari peretas.

“Akun email lebih berharga daripada yang disadari orang – scammers semakin banyak yang menargetkan email karena mereka menghubungkan individu ke akun keuangan dan informasi pribadi lainnya,” kata Katsogiannis dalam sebuah pernyataan.

“Sering ada informasi berharga yang disimpan di sent items atau trash email, dan scammer akan mencari apapun yang akan membantu dalam mengambil alih identitas Anda atau mengakses keuangan Anda. Ini adalah cara modern yang ekuivalen dengan menggali tong sampah rumah tangga atau mencuri surat. Sama seperti saat kita diajarkan untuk menghancurkan dokumen dan mengunci kotak surat kami, pelajarannya sekarang memastikan bahwa akun email yang berisi informasi pribadi dan terkait dengan akun keuangan harus memiliki autentikasi minimum dua faktor. Informasi pribadi Anda adalah komoditas yang sangat berharga bagi para penjahat dan perlu diperlakukan dan dijamin sebagaimana Anda akan mendapatkan uang,” tutup Arthur.

Terkait kasus pencurian di atas, polisi mengatakan penyelidikan masih akan terus berlanjut.

Sumber: news.com.au

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here